“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.” (QS al-Baqarah [2]: 2)
Syukur dengan mengucap Alhamdulillâh karena
kita telah berada dalam lingkungan dan jiwa yang Islami. Di sini, kita
berjumpa dengan al-Qur’an yang mulia yang menjadi sumber dari segala
sumber hukum. Mungkin beberapa di antara pembaca sekalian ada yang
bertanya-tanya sambil mengerutkan dahi. Mengapa dengan al-Qur’an harus
bersahabat? Lalu, bagaimana cara kita bersahabat dengan al-Qur’an?
Padahal al-Qur’an tak dapat berbicara.
Ya, karena al-Qur’an adalah kalam Allah. Itulah jawabannya. “Dan sesungguhnya al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam” (QS al-Syu’arâ’[26]: 192). Ia juga dibawa oleh sang Ruh al-Amîn
(QS al-Syu’arâ’[26]: 193) ke dalam hati manusia (Muhammad) agar ia
dapat memberi peringatan kepada manusia (umatnya). Selain itu al-Qur’an
tidak pernah bohong dengan kita. Lihat saja di dalamnya, dalam surat
yang kedua (al-Baqarah) seperti yang telah tertera di atas, dijelaskan
bahwa tidak ada keraguan di dalamnya (al-Qur’an). Karena al-Qur’an itu
kalam Allah, maka secara tidak langsung bila kita sedang berinteraksi
dengan al-Qur’an berarti kita juga sedang berinteraksi dengan Allah (The Creator). Di dalam al-Qur’an terdapat banyak petunjuk yang diberikan oleh Allah l untuk segenap manusia.
Seperti kita memiliki
seorang sahabat dari kalangan manusia, kita tidak akan mendiamkannya.
Kita akan memperlakukannya sebagaimana mestinya seorang sahabat.
Misalnya, mengajaknya makan bersama, bepergian bersama. Apabila sedang
sedih atau bahagia, curhat dengannya. Mengenali dan memahami dirinya,
karakternya, hingga hampir semua tentang dirinya. Begitulah cara
bersahabat dengan sesama manusia.
Tidaklah berbeda jauh cara kita
bersahabat dengan al-Qur’an. Teringat, bahwa khas seseorang itu dapat
dilihat dari temannya (sahabatnya). Barang siapa yang bersahabaat dengan
tukang minyak wangi, maka ia akan tertular bau wanginya. Siapa yang
dekat dengan pandai besi, maka dimungkinkan akan terpercik bara apinya.
Analoginya, siapapun yang dekat dengan al-Qur’an, maka akan merasakan
kedekatannya dengan Allah l sebagai penciptanya. Ia akan mendapatkan
banyak pengetahuan, merasakan ketenangan, dan mendapatkan petunjuk
dari-Nya, In syâ Allâh.
Lalu, bagaimana kita memperlakukan
al-Qur’an sebagai sahabat kita? Ada lima perlakuan yang semestinya
dilakukan oleh kita seorang Muslim sebagai sahabat al-Qur’an. Antara
lain tilâwatuhu, hifdzuhu, fahmuhu, ‘amaluhu, dan tablighuhu atau da’watuhu.
Tilâwatuhu (Membacanya)
Membaca adalah indikator pertama bahwa
kita adalah sahabatnya. Tidak lain adalah dengan benar dalam membacanya
karena hukum membaca al-Qur’an sesuai kaidah ilmu tajwid adalah fardhu ‘ain. Mau membaca dengan benar dapat dilakukan dengan belajar kepada ahlinya dengan talaqqi (secara langsung dibimbing oleh guru al-Qur’an). Pasalnya, bacaan al-Qur’an bukan berdasarkan ijtihad tetapi riwayat. Dengan talaqqi, sang murid akan diarahkan dan dibenarkan setiap kali salah membaca. Sabda Rasulullah `: “Orang
yang mahir dalam al-Qur’an bersama duta-duta mulia lagi suci, dan siapa
yang membaca al- Qur’an dengan terbata-bata dan mengalami kesulitan
maka baginya dua pahala.” (HR Muslim dan Ahmad). Lihat saja pahala membacanya sebagaimana sabda Rasulullah `: “Orang yang membaca satu huruf dari Kitabullâh, maka baginya satu kebaikan dan setiap kebaikan setara dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif lâm mîm satu huruf, akan tetapi alih satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf.” (HR Tirmidzi)
Hifzhuhu (Menghafalnya)
Setelah membacanya, kita tentu ingin memberikan yang istimewa bagi sang sahabat yaitu mengingat-ingatnya dengan hifzhihi.
Sahabat kita akan bangga bila kita hafal dengan namanya. Dalam hal ini,
Allahlah yang akan pertama kali bangga dengan kita bila kita
menghafalkan al-Qur’an. Bahkan sesungguhnya mereka termasuk keluarga
Allah l. “Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia.”
Para sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Rasul menjawab,
“Para ahli al-Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan pilihan-pilihan-Nya.”
(HR Ahmad). Memindahkan tulisan ke dalam dada merupakan karakter
orang-orang yang diberi ilmu dan sebagai tolok ukur keimanan hati
seseorang. Allah l berfirman: “Sebenarnya al-Qur’an adalah ayat-ayat
yang jelas di dalam dada-dada orang yang diberi ilmu, dan tidaklah
mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang yang zhalim” (QS al-Ankabût[29]: 49). Rasulullah ` juga bersabda: “Sesungguhnya orang yang di dalam dadanya tidak terdapat ayat dari al-Qur’an, bagaikan rumah yang tidak berpenghuni”(HR Tirmidzi). Subhanallâh!
Fahmuhu (Memahami Isinya)
Setelah hafal nama sahabat, barulah kita
mengenalnya lebih jauh. Dengan menghafalkan al-Qur’an, kita dapat mudah
memahaminya. Untuk dapat memahami isi al-Qur’an dengan baik diperlukan
penguasaan bahasa Arab. Alasannya, al-Qur’an diturunkan dalam bahasa
Arab yang sangat tinggi sastranya. Sehingga sebagai Muslim yang baik
(sahabat sejatinya) butuh perjuangan belajar bahasa Arab untuk
menjadikannya sahabat kita.
Membaca terjemahan al-Qur’an terkadang
sulit untuk mencernanya, sehingga perlu membaca tafsirnya. Dalam kaidah
hukum Islam, mereka yang ingin memahami al-Qur’an fardhu ‘ain hukumnya untuk mendalami ‘Ilmu Nahwu.
Identiknya, sesuatu itu dapat kita
pahami apabila kita telah hafal dengan sesuatu itu. Contoh, kita akan
faham dengan jalan pulang dari kampus ke kosan karena kita telah hafal
jalannya. Selain itu, hafal juga terbentuk karena intensitas
perlakuannya telah banyak.
‘Amaluhu (Mengamalkan)
Menghafal dan memahami sahabat sudah
dilakukan dengan baik. Yang kemudian adalah mengamalkannya dengan
menghormati pendapatnya yang berbeda, menghargai usaha kerasnya,
mengajaknya bepergian, dan lain-lain. Sebagai Muslim sejati, adalah
tentu urusan mengamalkan isi al-Quran menjadi implikasi dan realisasi
mengenalnya. Bukan sekedar kitab yang hanya dibaca, tetapi al-Qur’an
ingin lebih dari itu (bila saja al-Qur’an dapat berbicara). Seperti
dalam surat ke-2 ayat 2, dikatakan bahwa al-Qur’an adalah petunjuk
hidup. Allah l berfirman: “Dan demikianlah Kami menurunkan al-Qur’an
dalam bahasa Arab, dan Kami telah menerangkan dengan berulang kali, di
dalamnya sebahagian dari ancaman, agar mereka bertaqwa atau al-Qur’an
itu menimbulkan pengajaran bagi mereka.” (QS Thâhâ [20]: 113).
Al-Qur’an itu sebagai sumber pokok acuan
kehidupan manusia pada umumnya, dan muslim khususnya. Di dalam
al-Qur’an terdapat banyak informasi yang sangat luas. Seperti mencakup
pokok agama, aqidah, penentuan hukum ibadah dan muamalah dan
pelaksanannya, sejarah, ilmu pengetahuan, sastra dan bidang lainnya.
Kesemua hal tersebut seharusnya menjadi dasar bagi diri kita. Yang
paling esensial adalah pengamalan ‘aqidah dan syari’ah dalam kandungan al-Qur’an.
Da’watuhu (Mendakwahkannya)
Idealnya, karena kita mengenal baik
sahabat kita, kita tidak ingin hanya berdua saja dengannya. Kita ingin
ada orang lain juga yang ikut dalam lingkran persahabatan. Suasananya
akan lebih ramai, banyak cerita yang dapat dibagi-bagi. Begitu pula
kalau bersahabat dengan al-Qur’an. Mengajak orang lain untuk bersahabat
dengan al-Qur’an bersama kita agar orang lain ikut merasakan nikmatnya.
Menyampaikan isi kandungan al-Qur’an – walaupun satu ayat – adalah wujud
kita sebagai hamba Allah l yang sempurna. Rasulullah ` bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya” (HR Bukhari).
Epilog
Al-Qur’an akan merasa senang
bersabahat dengan kita bila kita memperlakukannya seperti di atas.
Berinteraksi dengan al-Qur’an membuat segenap potensi tubuh kita
beroperasi. Mata yang melihat, mulut yang mengeja atau membaca, tangan
memegang, otak berkonsentrasi, telinga mendengar, kaki, suara,
pernafasan, dan lainnya kita gunakan. Semua organ tubuh kita akan lebih
berkah bila mampu bersahabat dengan al-Qur’an. Apalagi memperlakukan
al-Qur’an dengan baik, walau hanya membacanya, itu pun sudah memberikan
kita pahala. Dan pada bulan Ramadhan, pahala yang kita dapatkan akan
berlipat-liat untuk setiap kebaikan yang kita lakukan. Mari bersahabat
dengan al-Qur’an! Yā muqollibal qulūb, tsabbit qulūbanā ‘alā dīnik wa ‘alā thā‘atik. Wallahu a’lamu bisshawāb.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar