Sabtu, 29 Agustus 2015

MENJADIKAN AL-QUR’AN SEBAGAI SAHABAT


 “Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.” (QS al-Baqarah [2]: 2)

            Syukur dengan mengucap Alhamdulillâh karena kita telah berada dalam lingkungan dan jiwa yang Islami. Di sini, kita berjumpa dengan al-Qur’an yang mulia yang menjadi sumber dari segala sumber hukum. Mungkin beberapa di antara pembaca sekalian ada yang bertanya-tanya sambil mengerutkan dahi. Mengapa dengan al-Qur’an harus bersahabat? Lalu, bagaimana cara kita bersahabat dengan al-Qur’an? Padahal al-Qur’an tak dapat berbicara.
            Ya, karena al-Qur’an adalah kalam Allah. Itulah jawabannya. “Dan sesungguhnya al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam” (QS al-Syu’arâ’[26]: 192). Ia juga dibawa oleh sang Ruh al-Amîn (QS al-Syu’arâ’[26]: 193) ke dalam hati manusia (Muhammad) agar ia dapat memberi peringatan kepada manusia (umatnya). Selain itu al-Qur’an tidak pernah bohong dengan kita. Lihat saja di dalamnya, dalam surat yang kedua (al-Baqarah) seperti yang telah tertera di atas, dijelaskan bahwa tidak ada keraguan di dalamnya (al-Qur’an). Karena al-Qur’an itu kalam Allah, maka secara tidak langsung bila kita sedang berinteraksi dengan al-Qur’an berarti kita juga sedang berinteraksi dengan Allah (The Creator). Di dalam al-Qur’an terdapat banyak  petunjuk yang diberikan oleh Allah l untuk segenap manusia.
            Seperti kita memiliki seorang sahabat dari kalangan manusia, kita tidak akan mendiamkannya. Kita akan memperlakukannya sebagaimana mestinya seorang sahabat. Misalnya, mengajaknya makan bersama, bepergian bersama. Apabila sedang sedih atau bahagia, curhat dengannya. Mengenali dan memahami dirinya, karakternya, hingga hampir semua tentang dirinya. Begitulah cara bersahabat dengan sesama manusia.
Tidaklah berbeda jauh cara kita bersahabat dengan al-Qur’an. Teringat, bahwa khas seseorang itu dapat dilihat dari temannya (sahabatnya). Barang siapa yang bersahabaat dengan tukang minyak wangi, maka ia akan tertular bau wanginya. Siapa yang dekat dengan pandai besi, maka dimungkinkan akan terpercik bara apinya. Analoginya, siapapun yang dekat dengan al-Qur’an, maka akan merasakan kedekatannya dengan Allah l sebagai penciptanya. Ia akan mendapatkan banyak pengetahuan, merasakan ketenangan, dan mendapatkan petunjuk dari-Nya, In syâ Allâh.
Lalu, bagaimana kita memperlakukan al-Qur’an sebagai sahabat kita? Ada lima perlakuan yang semestinya dilakukan oleh kita seorang Muslim sebagai sahabat al-Qur’an. Antara lain tilâwatuhu, hifdzuhu, fahmuhu, ‘amaluhu, dan tablighuhu atau da’watuhu.

Tilâwatuhu (Membacanya)
Membaca adalah indikator pertama bahwa kita adalah sahabatnya. Tidak lain adalah dengan benar dalam membacanya karena hukum membaca al-Qur’an sesuai kaidah ilmu tajwid adalah fardhu ‘ain. Mau membaca dengan benar dapat dilakukan dengan belajar kepada ahlinya dengan talaqqi (secara langsung dibimbing oleh guru al-Qur’an). Pasalnya, bacaan al-Qur’an bukan berdasarkan ijtihad tetapi riwayat. Dengan talaqqi, sang murid akan diarahkan dan dibenarkan setiap kali salah membaca. Sabda Rasulullah `: “Orang yang mahir dalam al-Qur’an bersama duta-duta mulia lagi suci, dan siapa yang membaca al- Qur’an dengan terbata-bata dan mengalami kesulitan maka baginya dua pahala.” (HR Muslim dan Ahmad). Lihat saja pahala membacanya sebagaimana sabda Rasulullah `: “Orang yang membaca satu huruf dari Kitabullâh, maka baginya satu kebaikan dan setiap kebaikan setara dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif lâm mîm satu huruf, akan tetapi alih satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf.” (HR Tirmidzi)
Hifzhuhu (Menghafalnya)
Setelah membacanya, kita tentu ingin memberikan yang istimewa bagi sang sahabat yaitu mengingat-ingatnya dengan hifzhihi. Sahabat kita akan bangga bila kita hafal dengan namanya. Dalam hal ini, Allahlah yang akan pertama kali bangga dengan kita bila kita menghafalkan al-Qur’an. Bahkan sesungguhnya mereka termasuk keluarga Allah l. “Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia.” Para sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Rasul menjawab, “Para ahli al-Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan pilihan-pilihan-Nya.” (HR Ahmad). Memindahkan tulisan ke dalam dada merupakan karakter orang-orang yang diberi ilmu dan sebagai tolok ukur keimanan hati seseorang. Allah l berfirman: “Sebenarnya al-Qur’an adalah ayat-ayat yang jelas di dalam dada-dada orang yang diberi ilmu, dan tidaklah mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang yang zhalim” (QS al-Ankabût[29]: 49). Rasulullah ` juga bersabda: “Sesungguhnya orang yang di dalam dadanya tidak terdapat ayat dari al-Qur’an, bagaikan rumah yang tidak berpenghuni”(HR Tirmidzi). Subhanallâh!
Fahmuhu (Memahami Isinya)
Setelah hafal nama sahabat, barulah kita mengenalnya lebih jauh. Dengan menghafalkan al-Qur’an, kita dapat mudah memahaminya. Untuk dapat memahami isi al-Qur’an dengan baik diperlukan penguasaan bahasa Arab. Alasannya, al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab yang sangat tinggi sastranya. Sehingga sebagai Muslim yang baik (sahabat sejatinya) butuh perjuangan belajar bahasa Arab untuk menjadikannya sahabat kita.
Membaca terjemahan al-Qur’an terkadang sulit untuk mencernanya, sehingga perlu membaca tafsirnya. Dalam kaidah hukum Islam, mereka yang ingin memahami al-Qur’an fardhu ‘ain hukumnya untuk mendalami ‘Ilmu Nahwu.
Identiknya, sesuatu itu dapat kita pahami apabila kita telah hafal dengan sesuatu itu. Contoh, kita akan faham dengan jalan pulang dari kampus ke kosan karena kita telah hafal jalannya. Selain itu, hafal juga terbentuk karena intensitas perlakuannya telah banyak.
‘Amaluhu (Mengamalkan)
Menghafal dan memahami sahabat sudah dilakukan dengan baik. Yang kemudian adalah mengamalkannya dengan menghormati pendapatnya yang berbeda, menghargai usaha kerasnya, mengajaknya bepergian, dan lain-lain. Sebagai Muslim sejati, adalah tentu urusan mengamalkan isi al-Quran menjadi implikasi dan realisasi mengenalnya. Bukan sekedar kitab yang hanya dibaca, tetapi al-Qur’an ingin lebih dari itu (bila saja al-Qur’an dapat berbicara). Seperti dalam surat ke-2 ayat 2, dikatakan bahwa al-Qur’an adalah petunjuk hidup. Allah l berfirman: “Dan demikianlah Kami menurunkan al-Qur’an dalam bahasa Arab, dan Kami telah menerangkan dengan berulang kali, di dalamnya sebahagian dari ancaman, agar mereka bertaqwa atau al-Qur’an itu menimbulkan pengajaran bagi mereka.” (QS Thâhâ [20]: 113).
Al-Qur’an itu sebagai sumber pokok acuan kehidupan manusia pada umumnya, dan muslim khususnya. Di dalam al-Qur’an terdapat banyak informasi yang sangat luas. Seperti mencakup pokok agama, aqidah, penentuan hukum ibadah dan muamalah dan pelaksanannya, sejarah, ilmu pengetahuan, sastra dan bidang lainnya. Kesemua hal tersebut seharusnya menjadi dasar bagi diri kita. Yang paling esensial adalah pengamalan ‘aqidah dan syari’ah dalam kandungan al-Qur’an.
Da’watuhu (Mendakwahkannya)
Idealnya, karena kita mengenal baik sahabat kita, kita tidak ingin hanya berdua saja dengannya. Kita ingin ada orang lain juga yang ikut dalam lingkran persahabatan. Suasananya akan lebih ramai, banyak cerita yang dapat dibagi-bagi. Begitu pula kalau bersahabat dengan al-Qur’an. Mengajak orang lain untuk bersahabat dengan al-Qur’an bersama kita agar orang lain ikut merasakan nikmatnya. Menyampaikan isi kandungan al-Qur’an – walaupun satu ayat – adalah wujud kita sebagai hamba Allah l yang sempurna. Rasulullah ` bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya” (HR Bukhari).

Epilog
            Al-Qur’an akan merasa senang bersabahat dengan kita bila kita memperlakukannya seperti di atas. Berinteraksi dengan al-Qur’an membuat segenap potensi tubuh kita beroperasi. Mata yang melihat, mulut yang mengeja atau membaca, tangan memegang, otak berkonsentrasi, telinga mendengar, kaki, suara, pernafasan, dan lainnya kita gunakan. Semua organ tubuh kita akan lebih berkah bila mampu bersahabat dengan al-Qur’an. Apalagi memperlakukan al-Qur’an dengan baik, walau hanya membacanya, itu pun sudah memberikan kita pahala. Dan pada bulan Ramadhan, pahala yang kita dapatkan akan berlipat-liat untuk setiap kebaikan yang kita lakukan. Mari bersahabat dengan al-Qur’an! Yā muqollibal qulūb, tsabbit qulūbanā ‘alā dīnik wa ‘alā thā‘atik. Wallahu a’lamu bisshawāb.

Rigor and Reproducibility



Johns Hopkins University students in a laboratory.
Johns Hopkins University students in a laboratory. (Johns Hopkins University Photo)
Two of the cornerstones of science advancement are rigor in
designing and performing scientific research and the ability to
reproduce biomedical research findings. The application of rigor ensures
robust and unbiased experimental design, methodology, analysis,
interpretation, and reporting of results. When a result can be
reproduced by multiple scientists, it validates the original results and
readiness to progress to the next phase of research. This is especially
important for clinical trials in humans, which are built on studies
that have demonstrated a particular effect or outcome.


In recent years, however, there has been a growing awareness of
the need for rigorously designed published preclinical studies, to
ensure that such studies can be reproduced. This webpage provides
information about the efforts underway by NIH to enhance rigor and
reproducibility in scientific research.


Richard Siegel, M.D., Ph.D., (right) NIAMS Clinical Director and Chief of the Autoimmunity Branch, discusses research results with postdoctoral fellow Martin Pelletier, Ph.D.
Richard Siegel, M.D., Ph.D., (right) NIAMS
Clinical Director and Chief of the Autoimmunity Branch, discusses
research results with postdoctoral fellow Martin Pelletier, Ph.D. (Bill
Branson, photographer)

Jumat, 28 Agustus 2015

Penyebab Bronkitis Iritatif





Bronkitis
atau sering disebut sebagai bronchitis dalam istilah medisnya adalah
peradangan yang terjadi pada bronkus atau saluran udara ke paru-paru.
Seiring berjalannya waktu bronkitis yang bersifat ringan bisa sembuh
dengan sendirinya. Bronkitis bisa menjadi penyakit yang serius, apabila
si penderita telah berusia lanjut.


Penyebab Bronkitis


Penyebab dari bronkitis Penyebab Bronkitis Iritatif: yang
sedikit menyerupai bakteri (mycoplasma pneumonia dan chlamydia). Pada
perokok dan penderita penyakit paru-paru, serta pada saluran pernafasan
menahun dapat terjadi serangan bronkitis berulang. Penyebab dari infeksi
berulang  karena: bronkiektasis, alergi, sinusitis kronis, adenoid
pada anak-anak dan pembesaran amandel.


Penyebab Bronkitis Iritatif:


  • Debu
  • Ammonia, klorin, pelarut organic, bromin, hydrogen sulfide dan asap dari asam kuat
  • Polusi udara penyebab dari iritasi ozon dan asap rokok.
Gejala-gejala Bronkitis


Pada penderita bronkitis, gejala yang tampak adalah:


  • Batuk berdahak, warna dahak kemerahan
  • Pada saat melakukan olahraga atau aktifitas ringan merasakan sesak nafas
  • Sering menderita flu atau infeksi pernafasan
  • Lelah
  • Bengek
  • Terjadi pembengkakan pada pergelangan kaki serta tungkai kanan-kiri
  • Selaput lendir, wajah dan telapak tangan berwarna kemerahan
  • Tampak kemerahan pada pipi
  • Merasakan sakit kepala
  • Penglihatan terganggu
Gejala yang sering muncul pada bronkitis infeksioda adalah pilek,
hidung meler, mengigil, lelah, nyeri otot, sakit punggung, nyeri
tenggorokan dan demam ringan. Tanda dimulainya bronkitis biasanya batuk.
Awal terjadinya batuk biasanya tidak berdahak, namun setelah 1-2 hari
dahak berwarna putih atau kuning akan keluar. Lama-kelamaan dahak akan
bertambah banyak, dahak berwarna kuning atau hijau.


Pada penderita bronkitis berat, kadang terjadi demam tinggi selama
3-5 hari setelah sebagian besar gejala lainnya membaik. Jika saluran
udara tersumbat akan terjadi sesak nafas. Bunyi nafas sering berbunyi
mengi setelah batuk.


Diagnosa


Diagnose bronkitis dapat ditemukan dari gejala utama adanya lendir.
Akan terdengar bunyi bronki atau bunyi pernafasan yang tidak normal pada
saat diperiksa dengan menggunakan stetoskop. Anda juga dapat
menggunakan pemeriksaan lainnya yaitu:


-       Gas darah arteri


-       Tes fungsi paru


-       Rontgen dada


Pengobatan Bronkitis


Tujuan dari dilakukannya pengobatan bronkitis adalah untuk mengurangi
demam yang terjadi dan rasa yang kurang enak pada badan. Bisa diberikan
aspirin ata asetaminofen pada penderita yang berumur dewasa. Sedangkan
pada anak-anak sebaiknya berikan saja asetaminofen.


Dianjurkan untuk penderita sebaiknya berisitirahat dan minum banyak
cairan. Apabila penyebab bronkitis dari infeksi bakteri dan dahaknya
berwarna kuning atau hijau serta demamnya tetap tinggi dan sebelumnya
penderita juga memiliki penyakit paru-paru sebaiknya diberikan
antibiotik.


Trimetoprimsulfametoksazol, tetracyclin, atau ampisilin dapat
diberikan pada penderita dewasa. Sedangkan amoxicillin dapat diberikan
pada penderita anak-anak. Jangan berikan antibiotik apabila penyebabnya
adalah virus. Perlu dilakukan pemeriksaan perkembangbiakan dari dahak
apabila gejalanya menetap atau berulang serta dirasa bronkitisnya sangat
berat, hal ini dilakukan untuk menentukan apakah perlu dilakukan
penggantian antibiotik.